LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday83
mod_vvisit_counterYesterday382
mod_vvisit_counterThis week3202
mod_vvisit_counterThis month6412
mod_vvisit_counterAll days818738

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home News FT Industri Siap Lahirkan Technopreneurship
FT Industri Siap Lahirkan Technopreneurship
Thursday, 15 April 2010 09:44
Share | |

Asean-China Free Trade Agreement atau biasa disebut ACFTA kian menunjukkan tajinya. Apalagi produk negara berjuluk Tirau Bambu ini makin merajalela membanjiri pasar industri Indonesia. Untuk itu industri di Indonesia mau tidak mau harus terus berinovatif dan berkreatifitas untuk meningkatkan daya saing industri-industri domestik terhadap industri-industri China. Hal tersebut disampaikan oleh Eric Wibisono, S.T., M.Eng, selaku kajur FT Industri Ubaya.


Eric Wibisono, S.T., M.Eng.
Eric Wibisono, S.T., M.Eng.



Eric berpendapat, untuk menyaingi produk China yang terkenal murah ini tidak semudah membalikkan tangan. “Semua butuh proses dan tak bisa instan dalam hal ini,” ujarnya. Disamping itu, ia menambahkan  perlunya menumbuhkan jiwa enterpreneurship  di masyarakat Indonesia. Hal ini untuk meningkatkan daya saing bangsa akan era globalisasi ini.

Fakultas Teknik, jurusan teknik industri, menurut Eric sudah menanamkan jiwa enterpreneurship dengan berbalut  technopreneurship. “Hal tersebut  kami tanamkan untuk menjawab kebutuhan pasar industri dewasa ini. Tak hanya kemampuan akademis tapi jiwa wirausaha terus kami pupuk sejak awal,” jawabnya. Kembali lagi, semuanya tidaklah instan. Ia menuturkan, enterpreunership adalah talenta alami yang dimiliki seseorang.

Hujan produk China ternyata mampu mengalihkan minat masyarakat Indonesia yang terkenal konsumtif ini. Alhasil, industri dalam negeri 'meringis kesakitan'. Eric menjawab, butuh daya kreatifitas dan inovatif. “Didalam kelas saja tidaklah cukup untuk mendapatkan ilmu enterpreneurship. Mahasiswa harus belajar di luar kampus,” terang penghobi bulutangkis ini.  Jadi, bisa dikatakan tak hanya peran perguruan tinggi, namun perusahaan ataupun contoh nyata dalam melahirkan jiwa  enterpreneurship juga penting.

Kenyataan lahirnya ACFTA tidak bisa dihindari. Menurut Eric, kalangan industri juga harus memutar otak untuk bertahan dengan kondisi ini. “Sulit namun inilah kenyataannya. Harus tingkatkan kreatifitas dan inovasi dalam berkarya,” pungkasnya. (cuy/wu)

dikutip dari www.ubaya.ac.id