LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday237
mod_vvisit_counterYesterday247
mod_vvisit_counterThis week715
mod_vvisit_counterThis month6455
mod_vvisit_counterAll days623702

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home News Agar Petani Tak Bungkuk karena Tanam Padi
Agar Petani Tak Bungkuk karena Tanam Padi
Saturday, 22 January 2011 09:47
Share | |

Rungkut – Cara petani menanam padi selama ini memicu keprihatinan Dewi Findiarani. Dengan menanam sembari membungkuk berjam-jam, mereka tentu dibayangi penyakit bungkuk di hari tua. Karena itu, Dewi tergerak membantu. Mahasiswa semester V jurusan Desain manajemen produk fakultas teknik di Universitas Surabaya (Ubaya) itu mengkreasi alat menanam padi yang praktis.




ALAT BANTU: Devi Findiarani dan alat bantu ciptaannya [foto: Jawa Pos]
ALAT BANTU: Devi Findiarani dan alat bantu
ciptaannya [foto: Jawa Pos]

“Selain praktis dan simpel, alatnya mampu menghindarkan petani dari serangan penyakit bungkuk di hari tua,” ujar perempuan 20 tahun tersebut.

Alat tersebut dinamakan tawi alias tandur winih (tanam benih, Red). Alatnya cukup sederhana dan berbentuk seperti tongkat. Tingginya sekitar 80 cm.

Alat tersebut terdiri atas dua bagian yang menyambung. Yang pertama berbentuk tongkat yang berfungsi sebagai pengangan sekaligus membuat lubang.

Bagian kedua merupakan tempat untuk menanam benih tanpa harus membungkuk.

“Sembari berdiri dan berjalan mundur, petani langsung bisa menanam benihnya lewat lubang bagian yang miring ini,” jelas Devi sembari menunjukkan alat yang diciptakannya.

Soal tempat benih yang hendak ditanam, petani tidak perlu repot-repot menggenggamnya. Sebab, mahasiswi asal Wage Sidoarjo, itu telah melengkapi alatnya dengan kantong tempat benih. Kantong tersebut pun bisa diikatkan di pinggang para petani. Jadi, mereka tak akan kerepotan. “Jika selesai menanam, kantong ini bisa difungsikan untuk menyimpan alat penenamnya. Jadi, paraktis kan,” terangnya.

Selain praktis, alumnus SMAN 15 Surabaya itu memastikan kantong petani tidak kempis karena alat tersebut.

“Sebab, membuatnya mudah. Bahannya pun murah. Bahan-bahan utamanya adalah paralon dan sedikit besi,” sebutnya. Selain itu, hanya butuh ember kecil plus kain. Total kalau mau bikin alat ini biayanya cuma Rp. 30 ribu-Rp. 40 ribu,” tambahnya. (fim/c8/ttg)

Sumber : Jawa Pos, 22 Januari 2011