LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini51
mod_vvisit_counterKemarin192
mod_vvisit_counterMinggu ini51
mod_vvisit_counterBulan ini5791
mod_vvisit_counterSemua623038

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Pengembangan Sistem Kemudi Otomatis untuk Menjaga Mobil Tetap di Jalur
Pengembangan Sistem Kemudi Otomatis untuk Menjaga Mobil Tetap di Jalur
Selasa, 10 Februari 2009 09:25
Share | |
Minimalisasi Kecelakaan Berkendara karena Human Error

Meski sudah banyak rambu dipasang, angka kecelakaan masih tinggi. Human error menjadi faktor utama. Liliek Wijayanti termotivasi membuat teknologi yang aman bagi mobil saat melaju di jalanan.

Liliek Wijayanti termotivasi membuat teknologi yang aman bagi mobil saat melaju di jalanan.


Idenya Lili, sapaannya, berawal dari keprihatinan melihat banyak pengendara yang lalai menjaga keselamatan di jalan. Tidak sedikit mobil yang menabrak markah jalan. Penyebabnya pun beragam. Mulai mengantuk, mabuk, atau tak mematuhi rambu-rambu peringatan.

Bersama dosen pembimbingnya, Liliek Wijayanti memutuskan untuk membuat sistem line keeping assistance. Alat tersebut bisa menjaga laju mobil agar tetap berada pada jalur. Lili membuat prototipe dulu untuk mengaplikasikan sistem tersebut.

"Ini kan baru konsep dasar. Jadi, aku membuat mobil-mobilan sendiri dulu beserta semua sistemnya," ungkap mahasiswa jurusan Teknik Elektro Universitas Surabaya itu. Dibutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk merakit semuanya, mulai konsep hingga jadi.

Mobil itu dibuat dengan motor DC sebagai penggerak. Lalu, kerja motor dihubungkan pada potensiometer yang mengaktifkan sistem analog to digital untuk pemrosesan data di mikroprosesor. Prototipe mobil tersebut juga dilengkapi webcam. Fungsinya menangkap citra yang digunakan sebagai acuan kendali.

Baik kamera dan mikroprosesor pada mobil dihubungkan pada komputer kendali yang akan memproses. Dari situ, akan dikirim perintah yang harus dilakukan mobil. Uji coba dilakukan di lintasan dengan markah yang diberi warna merah. "Pemrosesan dalam komputer pakai software C++ dan OpenCV untuk mendeteksi warna merah markah. Indetifikasi penghitungan jalur yang tepat jadi tugas hough transform," imbuh Lili.

Urutan kerjanya dimulai dari input berupa gambar yang diterima webcam. Saat mobil berjalan dan sistem dinyalakan penuh, webcam akan menangkap gambar lintasan. Gambar itu masuk ke komputer dan difilter untuk menemukan warna merah markah jalan. Dengan program hough transform, garis merah tersebut ditemukan sebagai pixel putih yang membentuk garis. Karena markah ada di kanan dan kiri lintasan, muncul dua garis pixel.

Garis pixel dari hough transform dikembalikan ke gambar asli dari webcam. Di sana akan diidentifikasi empat titik untuk menemukan jalan tengah. "Titik tengah ini yang bakal jadi acuan mobil supaya tak menabrak markah," lanjut Liliek yang akan sidang Maret mendatang. Saat mobil melewati lintasan berkelok-kelok, kamera menginputkan gambar dan langsung diproses komputer. Jika titik tengah gambar lintasan tadi lebih ke kanan dari titik acuan, roda secara otomatis bergerak ke kiri. Begitu juga sebaliknya. (puz/kkn)

dikutip dari Jawapos, 10 Pebruari 2009
[eko]

dikutip dari www.ubaya.ac.id