LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini72
mod_vvisit_counterKemarin138
mod_vvisit_counterMinggu ini985
mod_vvisit_counterBulan ini2005
mod_vvisit_counterSemua650519

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Pengembangan Sistem Kunci Otomatis dengan Database Berbasis Website
Pengembangan Sistem Kunci Otomatis dengan Database Berbasis Website
Selasa, 10 Maret 2009 13:39
Share | |

Tak Perlu Bergantung Juru Kunci Lagi

Rasa aman dan nyaman adalah segalanya. Untuk itu, tiap orang tidak boleh lengah. Dunia teknologi bisa dijadikan alat untuk memperbaiki.

Sutedja dengan hasil karyanya sistem kunci otomatis RFID berbasis website
Sutedja dengan hasil karyanya

Ingat kata-kata populer kejahatan datang bukan hanya dari niat pelaku, namun karena ada kesempatan. Untuk menutup celah sekecil mungkin terbukanya kesempatan itu, dunia teknologi urun andil. Salah satunya, sistem kunci otomatis RFID. Oleh Sutedja, sistem tersebut dikembangkan dengan basis website. Seperti apa?

Kunci analog yang biasa digunakan di rumah kini mulai ditinggalkan. Sebab, pencuri makin pandai bertindak ala McGyver. Di perkantoran, hotel, atau apartemen, banyak yang sudah menggunakan sistem kunci otomatis RFID.

Sistem itu menggunakan chip sebagai kunci, bisa berupa kartu, gantungan kunci, atau seperti kancing baju. Untuk membuka pintu, chip tersebut cukup didekatkan dengan RFID reader, maka pintu pun terbuka. Hematnya lagi, satu kartu bisa akses untuk beberapa pintu.

Untuk tugas akhirnya, Sutedja membuat pengembangannya dengan database berbasis website. ''Jadi, bukan sekadar kunci tutup pintu, tapi ada database-nya. Itu bisa diakses di internet," ujar Sutedja. Untuk pengujiannya, dia mengaplikasikan pada sistem keamanan di kampusnya, Universitas Surabaya.

Sistem tersebut terdiri atas beberapa bagian. Di antaranya, kartu RFID, RFID reader dengan mikrokontroler AVR, serta webserver. Software yang digunakan untuk mikrokontroler dibuat Sutedja sesuai kebutuhan. Dia membuat pengelompokan akses pintu, database pengakses, jam pengaksesan, dan tampilan di LCD grafik.

Misalnya, kartu RFID milik mahasiswa hanya bisa mengakses ruang kuliah, laboratorium, dan perpustakaan. "Dari server jam-jam aksesnya bisa ditentukan. Contoh, perpus sampai pukul 09.00 tutup, maka kartu nggak bisa terpakai," ujarnya. Tapi kalau keadaan terdesak, mahasiswa bisa menghubungi petugas admin untuk memberikan akses pada kartunya.

Admin tinggal mengutak-atik program di website yang sudah tersedia untuk akses kartu RFID tersebut. Jadi, tak perlu repot datang untuk membukakan pintu dan menunggu hingga selesai.

"Siapa yang masuk, card dan reader RFID sudah di-set untuk mengenali pemiliknya. Jadi, bisa tahu siapa saja yang akses. Kalau ada kehilangan, orang-orang inilah yang bertanggung jawab," jelasnya.

Status dosen juga bisa di-update melalui web server itu. Dengan log in sebagai dosen di situs, dia berhak mengubah status di LCD Screen. Maksudnya, dosen sedang berada di tempat atau tidak. "Beliau juga bisa membuka akses untuk mahasiswa yang ingin menemuinya," imbuh Sutedja.

Yang paling diuntungkan dari sistem itu tentu saja mahasiswa. Sebab, mereka tidak perlu lagi kecewa karena perpus tutup atau dosen tidak ada di tempat. (puz/kkn)

dikutip dari http://www.ubaya.ac.id