LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini31
mod_vvisit_counterKemarin158
mod_vvisit_counterMinggu ini640
mod_vvisit_counterBulan ini2702
mod_vvisit_counterSemua642509

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Dakonat, Permainan Dakon Kreasi Mahasiswi jurusan Desain dan Manajemen Produk Universitas Surabaya
Dakonat, Permainan Dakon Kreasi Mahasiswi jurusan Desain dan Manajemen Produk Universitas Surabaya
Kamis, 22 Oktober 2009 08:58
Share | |

SURABAYA - Bagi sebagian masyarakat, permainan dakon atau congklak pasti sudah tidak asing lagi. Yakni, salah satu permainan anak-anak khas daerah Jawa. Lubang cekung pada papan dakon biasanya berjumlah 16 buah. Masing-masing sisi papan dakon berisi tujuh lubang dan dua buah lubang di setiap ujung papan.

KREASI BARU: lima mahasiswa Ubaya mempraktekkan karyanya. foto dok: Jawa Pos
KREASI BARU: lima mahasiswa Ubaya mempraktekkan karyanya.
foto dok: Jawa Pos



Untuk memainkan, diperlukan biji-bijian untuk bahan isian lubang-lubang tersebut. Nah, umumnya biji yang digunakan dalam permainan itu adalah biji buah sawo atau biji buah-buahan lain. Namun, di mata lima mahasiswi jurusan Desain Desain dan Manajemen Produk Ubaya, biji-bijian tersebut tidak aman atau bisa membahayakan anak.

Terinspirasi itu, mereka membuat kreasi permainan dakon atau congklak yang menarik dan aman untuk anak-anak. Lima mahasiswi Ubaya tersebut adalah Kristia Lani, Novita Limanto, Devi Tania, Windy Febrianty, dan Fricilia A.S. Karya itu merupakan bagian dari tugas mata kuliah new product management.

''Selain bertujuan membudayakan kembali permainan tersebut, berdasar pengalaman, biji-bijian untuk main dakon itu kan tidak aman bagi anak-anak. Sebab, bisa-bisa ditelan,'' kata Lani, salah seorang di antara lima mahasiswi tersebut.

Dia mengatakan ingin memodifikasi permainan itu agar tidak tampak kuno. Caranya mengubah komponen-komponen dakon tersebut. Papan itu diganti tiang-tiang berwarna. Isi dakon diganti dengan bantal kecil-kecil berbentuk donat berisi dakron. Masing-masing donat-donatan itu diberi warna berbeda. Tujuannya menarik perhatian anak-anak. ''Begini akan aman bagi anak-anak,'' ujar perempuan yang mendapat nilai A dari karyanya itu.

Hasil karya itu juga mereka kirim ke Jakarta untuk mengikuti Indonesia Good Design Selection (IGDS). ''Pengumuman pemenang November nanti. Siapa tahu bisa menang,'' katanya. (alb/hud)

Sumber: Jawa Pos, 22 Oktober 2009

dikutip dari www.ubaya.ac.id