LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini51
mod_vvisit_counterKemarin192
mod_vvisit_counterMinggu ini51
mod_vvisit_counterBulan ini5791
mod_vvisit_counterSemua623038

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Joniarto Parung dan Efisiensi Distribusi Pupuk
Joniarto Parung dan Efisiensi Distribusi Pupuk
Senin, 19 Oktober 2009 09:12
Share | |

Setiap tahun, pupuk menjadi masalah besar bagi petani. Sebab, pasokan kerap menghilang, padahal musim tanam sudah tiba. Joniarto Parung, guru besar Universitas Surabaya, mencontohkan kelangkaan pupuk sebagai akibat alur rantai pasok yang kacau.


Joniarto Parung dan Efisiensi Distribusi Pupuk
Prof. Ir. Joniarto Parung, PhD



oleh Nina Susilo

Distributor pupuk bersubsidi, misalnya, dibatasi. Tanpa berusaha, distributor tetap mendapatkan untung. Karenanya, tidak ada yang memikirkan cara menyalurkan pupuk secara lebih efisien.

Bila pembatasan dikurangi, kemungkinan persaingan antar distributor akan terjadi. Merekapun berlomba menyalurkan pupuk secara lebih efisien. Sangat mungkin, harga pupuk bisa tetap murah kendati subsidi dikurangi.

Efisiensi kerja setiap rantai pasok (Supply chain) mulai menyediakan bahan mentah sampai distributor yang membawa produk ke konsumen, menurut Joniarto, bisa diukur, indikator pengukuran itu dilakukan secara multidimensi, misalnya dari biaya yang dikeluarkan, kepuasan konsumen, ketepatan waktu produk tiba ke konsumen, dan kesehatan kerja sama antar rantai pasok.

Dari pengukuran itu pula, secara transparan bisa diketahui apa saja faktor yang membuat kinerja lemah dan kalah bersaing. Pungutan liar atau pungli jelas akan menghasilkan persaingan tidak sehat kendati kinerja rantai pasok lainnya sudah efisien Pungli juga membuat produk perusahaan Indonesia kalah bersaing dengan produk serupa dari perusahaan di luar negeri.

Kendati belum menghitung secara rinci, kata Joniarto, berdasarkan diskusi dengan para pengusaha, biaya "siluman" ini mencapai 30 persen di semua lini. Bila biaya transportasi barang Rp. 1 juta, secara keseluruhan diperlukan Rp. 1,3 juta. Tambahan itu diperlukan untuk membayar pungli di jalan. Bila tidak, barang yang diangkut bisa saja terlambat sampai tujuan dengan berbagai alasan.

"Rantai pasok tidak hanya penyuplai, perusahaan dan distributor, tatapi juga pembuat regulasi. Karena itu, terkait pungli, pemerintah sangat menentukan," kata lelaki kelahiran Makassar, 15 November 1960, itu.

Efektifitas setiap mata rantai produksi, menurut ayah dua putri ini, semestinya tidak mengarah pada monopoli. Sebab di setiap tingkatan mata rantai mungkin terdiri atas beberapa rekan. "Ketika semua rantai bekerja sama dengan efektif, biaya produksi secara keseluruhan bisa ditekan dan konsumen puas," kata penggemar klub sepak bola Chelsea itu.

Ketertarikan mantan perwira Satuan Artileri Pertahanan Udara TNI AD pada masalah rantai pasok disebabkan adanya produk yang harganya relatif mahal, tetapi digemari orang. Ternyata, kegemaran ini disebabkan pelayanan yang memuaskan.

Akhirnya, pengajar menajemen operasi di Jurusan Teknik Industri Universitas Surabaya itu mendalami masalah manajemen rantai pasok di Design Manufacture and Engineering Management University of Strathclyde, Glasgow, Inggris, pada 2005. Hal ini dilanjutkan sampai pengukuhan Joniarto sebagai guru besar ke-9 Ubaya dengan pidato berjudul Pengukuran Kinerja Rantai Pasok (Supply Chain): Teori dan Aplikasi.

Di Indonesia, lanjut Joni, belum banyak perusahaan memerhatikan masalah rantai pasok. Umumnya perusahaan lebih mengutamakan diri sendiri supaya bisa bertahan. Beberapa perusahaan yang sudah memiliki manajer rantai pasok pun baru mengukur kinerja mata rantai internal seperti distributor dan manufaktur, belum pada rantai eksternal.

Selain itu, manajemen rantai pasok masih sulit diterapkan di Indonesia karena memerlukan komitmen dan rasa saling percaya. Penerapannya memang tidak semudah membalik telapak tangan.


BIODATA


Prof Ir Joniarto Parung PhD:
Lahir : Makassar, 15 November 1960
Istri : Ir Tjatur Agung Setijari MM
Anak  : Christabel Annora Paramita Parung,
           Christina Albertina Ludwinia Parung

Pendidikan :
- SDN 4 Rantepao
- SMPN 2 Rantepao
- SMAN 1 Rantepao
- S-1 Electrical Power Universitas Hasanuddin 1979-1984
- S-2 Productivity and Management of Technology ITB 1991-1992
- S-3 Supply Chain Management Design Manufacture and Engineering Management University of Strathclyde, Glasgow, Inggris, pada 2003-2005

Pengalaman Kerja:
1985-1990 Perwira TNI AD
1990-sekarang dosen tetap Fakultas Teknik Ubaya
1995-1999 Pembantu Dekan III FT Ubaya
1999-2003 Pembantu Rektor III Ubaya

Sumber: Kompas, 19 Oktober 2009

dikutip dari www.ubaya.ac.id