LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini236
mod_vvisit_counterKemarin247
mod_vvisit_counterMinggu ini714
mod_vvisit_counterBulan ini6454
mod_vvisit_counterSemua623701

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Angkat Potensi Kampung Surabaya Melalui Produk Kreatif
Angkat Potensi Kampung Surabaya Melalui Produk Kreatif
Sabtu, 10 September 2011 09:39
Share | |

SEMUA yang berbau kampung di Surabaya tiba-tiba memenuhi ruang gedung serbaguna teknik di kampus Universitas Surabaya (Ubaya) kemarin. Tapi bukan kampungnya yang di sana, melainkan puluhan karya mahasiswa dari jurusan Manajemen Produk Fakultas Teknik Ubaya.



alt
"Ilustrasi : Corbis [http://kampus.okezone.com]"


Semua hasil kreasi tangan-tangan terampil dan ide cerdas mahasiswa ini mengangkat potensi berbagai kampung Surabaya. Sejumlah 38 mahasiswa tersebut memamerkan karyanya.

Lantaran mengangkat tema potensi kampung Surabaya, maka bahan dan jenis karya yang dipamerkan banyak menggambarkan situasi kampung yang bersangkutan. Kemarin, sejumlah mahasiswa yang karyanya dipamerkan dalam acara tersebut terlihat sedang mengutak-atik hasil kreasinya.

Ada yang membersihkan debu-debu yang menempel, ada juga yang memperbaiki dan memasang bentuk-bentuk karyanya. Di sudut ruangan, ada juga mahasiswa yang sedang sibuk mendesaian karya melalui komputer. Pameran karya yang hanya berlangsung selama dua hari sejak Senin (11/7) lalu, benar-benar dimanfaatkan mahasiswa untuk unjuk kreasi.

Terdapat beberapa kampung yang mencoba diangkat mahasiswa dari perguruan tinggi swasta (PTS) yang berlokasi di Jalan Tenggilis ini. Misalnya, kampung Peneleh yang memiliki banyak bangunan bersejarah. Selain itu juga ada kampung Kenjeran dengan banyak ragam potensi bahari lantaran berdekatan dengan laut. Selain itu, kampung Wonorejo yang memiliki potensi tumbuhan mangrove. Tidak hanya kampung, para mahasiswa juga mengangkat potensi wilayah yang sekalilgus nama jalan seperti Jalan Karet dengan potensi ban-nya.

Tema yang disematkan pada masing-masing karya juga diberi nama yang cukup unik. Misalnya karya Lydia Linke yang membuat tempat penyimpanan alat tulis dari bahan kardus. Karya ini menggambarkan potensi yang ada di kampung Bubutan. Sehingga, nama produknya diberi nama Bubutan Design.

Ada juga karya dari Anastasia Merrytiana, yakni packaging yang terbuat dari bahan bekas sabun detergen. Karya yang menggambarkan potensi di kampung Jambangan ini diberi brand Re-Bag. Dari deretan karya mahasiswa ini, juga terdapat tas kamera dengan bentuk-bentuk yang cukup unik. Mengingat tas kamera ini menyimbolkan potensi Jalan Karet, maka bahan yang digunakan juga berasal dari karet, yakni ban. Karya Steven Antowijaya ini diberi nama Doket.

Tak ketinggalan adalah kampung Kenjeran. Salah satu mahasiwa, Herman Joseph Kim Setiawan, merancang sebuah tas yang berbahan jaring-jaring ikan. “Saya buat ini tidak membutuhkan waktu lama. Tiga hari sudah selesai,” ujar Joseph sembari menjelaskan secara teknis pembuatan karyanya.

Koordinator pameran, Patrick Harjono, saat ditemui di sela-sela kegiatan mengatakan, sebenarnya Surabaya memiliki banyak potensi yang dapat diolah dan dikembangkan menjadi sebuah produk bermutu yang layak jual.

Mahasiswa harus mampu mengangkat segala macam potensi Surabaya agar memiliki nilai ekonomis. Selain ingin mahasiswa mampu berkreasi, pameran ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa peka mahasiswa terhadap beragam potensi di Kota Pahlawan ini. “Mahasiswa, selain membuat karya juga harus mampu menyusun manajemen usaha yang bagus sehingga, produk yang dihasilkan mampu dan layak bersaing di pasar,” terangnya.

Sementara itu, dosen pendamping mahasiswa, Hany Mustikasari mengakui, saat ini banyak karya-karya kreatif dari mahasiswa. Sayangnya, karya-karya tersebut hanya berhenti sebatas menjadi karya tanpa memiliki nilai jual bahkan sulit untuk dipasarkan.

Menurut dia, hal itu disebabkan ketika membuat karya, mahasiswa tidak diajari tentang manajemen produk yang berfungsi untuk memasarkan hasil karyanya. “Saat ini, mahasiswa harus pandai-pandai melihat peluang, produk apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Hany menjelaskan, ketika membuat karya, mahasiswa harus mampu merancang bentuk-bentuk promosi yang efektif untuk memasarkan produknya. Promosi ini bisa dalam bentuk iklan di majalah atau koran. Bentuk promosi ini dibuat dalam buku khusus yang berisi sistematika promosi.

“Acara pameran ini kami gelar tiap pertengahan tahun. Tiap pameran mengusung tema yang berbeda-beda. Kali ini kami mengangkat soal kampung Surabaya,” pungkasnya.

dikutip dari:www.ubaya.ac.id