LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini48
mod_vvisit_counterKemarin114
mod_vvisit_counterMinggu ini577
mod_vvisit_counterBulan ini1678
mod_vvisit_counterSemua650192

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Mahasiswa Teknik Manufaktur Universitas Surabaya Membuat Karya Sensor Kebocoran Elpiji
Mahasiswa Teknik Manufaktur Universitas Surabaya Membuat Karya Sensor Kebocoran Elpiji
Jumat, 30 September 2011 11:16
Share | |


TENGGILIS MEJOYO – Kebocoran tabung gas elpiji selama ini menjadi salah satu biang terjadinya kebakaran. Untuk mendeteksi ada kebocoran gas itu, Otniel Kurniawan Winyoto membuat sebuah alat khusus. Mahasiswa prodi teknik manufaktur Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut meraih nilai A atas hasil kreasinya itu dalam ujian tugas akhirnya.



          "Ide awalnya muncul karena banyak kebakaran-kebarakan yang timbul dari kebocoran gas elpiji, terutama yang ukuran tiga kilogram," kata Otniel kemarin (21/9). Memang, lanjut dia, sudah ada alat yang berupa sensor gas di pasaran. Tetapi, itu berbeda dengan alat yang dibuatnya. Dijelaskannya, sebuah sensor TGS 2610 untuk mendeteksi gas yang terkandung dalam tabung elpiji dipasang pada bagian bawah sebuah stoples plastik transparan.

           Stoples tersebut diletakkan terbalik, menutupi regulator yang terpasang di ujung tabung gas. Bagian luar atas stoples itu disambungkan dengan besi disertai pegas. Besi tersebut dikoneksikan ke bawah untuk mengunci stoples dengan tabung.

          Sensor TGS 2610 itu dihubungkan dengan peranti elektronik yang berfungsi untuk memberikan tanda. Bila ada kebocoran gas, peranti itu akan berbunyi cukup keras yang disertai warna lampu yang menyala merah dan biru kelap-kelip. "Bunyinya bisa terdengar cukup keras di dalam rumah," jelas pemuda 22 tahun tersebut.

           Selain itu, alat tersebut memiliki slang tambahan untuk membuang gas ke luar ruang. "Ini bisa dipanjangkan dan dilewatkan ke luar dapur. Tinggal menambah panjang slang saja," ujarnya.

          Otniel mengungkapkan, biaya pembuatan alat itu sekitar Rp 500 ribu. Dia juga memiliki rancangan untuk membuat alat tersebut secara masal. Ada pula gagasan menghubungkan alat itu dengan media layanan pesan pendek (SMS). "Namun, saat ini masih terkendala harga sensor yang lumayan mahal," katanya.


dikutip dari:www.ubaya.ac.id