LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini21
mod_vvisit_counterKemarin143
mod_vvisit_counterMinggu ini21
mod_vvisit_counterBulan ini3137
mod_vvisit_counterSemua642944

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Mahasiswa Ubaya Desain Kandang Semi Otomatis
Mahasiswa Ubaya Desain Kandang Semi Otomatis
Selasa, 04 Oktober 2011 00:00
Share | |

suarasurabaya.net| Beny Kusumawanto mahasiswa Program Studi Teknik Manufaktur, Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik angkatan 2004 Universitas Surabaya (Ubaya) menyelesaikan tugas akhirnya dengan judul Kandang Ayam Semi Otomatis untuk Ayam Petelur.


Kandang tersebut dapat memproduksi 94% telur normal tanpa pecah. Beny pada suarasurabaya.net saat ditemui di Gedung International Village Ubaya, Rabu (21/9/2011), mengatakan, biasanya kandang ayam konvensional satu kandang berukuran 12x50 dan tidak tumpuk. Kalaupun tumpuk akan miring.

Dalam peternakan ayam ada 6 baris dengan jumlah total 5.000 ekor. Ada kekurangan dari kandang konvensional yakni ayam stres akibat bau kotoran dan hanya memproduksi 92% telur.

Sementara desain kandang Semi Otomatis milik Beny terdapat 12 baris dengan 10.000 ekor ayam. Tiap baris dengan tiga tumpukan kandang terdapat conveyor yang berjalan otomatis dengan timer yang berjalan tiap 8 jam/hari.

Kotoran yang tertempel pada conveyor akan bergerak dan bersih secara otomatis dan tertampung di bak penampungan di salah satu pojok. Menurut Beny, dengan terlokalisirnya kotoran akan menyebabkan bau kotoran tidak dihirup ayam. Hasilnya, kemungkinan stres pada ayam bisa ditekan dan dapat memproduksi 94% telur.

Ide pembuatan Kandang Semi Otomatis ini terinspirasi dari kandang ayam milik orangtuanya. Ide awalnya ingin membuat kandang tanpa menambah lahan, namun kapasitas meningkat.

Beny menerangkan, kandang konvensional dapat bertahan 4-5 tahun dengan biaya Rp 40 juta/baris. Sedangkan kandang Semi Otomatis desainnya dapat bertahan hingga12 tahun, karena terbuat dari logam, sekat aluminium, dan rangka baja.

Diperkirakan Kandang Semi Otomatis miliknya mencapai Rp 122 juta. Sebanding dengan panjang usia kandang yang lama dan produksi telur yang relatif tinggi.

Kendala pembuatan, ide belum muncul, peternak Indonesia belum maju dan sebagian besar membuat dengan bambu atau kayu. Menurutnya, ada konsep serupa namun harga perawatannya tinggi dan tidak di-expose. Dengan menggunakan program pro-engineer ia menyelesaikan desain kandangnya dalam waktu setahun.

dikutip dari : www.ubaya.ac.id