LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini237
mod_vvisit_counterKemarin247
mod_vvisit_counterMinggu ini715
mod_vvisit_counterBulan ini6455
mod_vvisit_counterSemua623702

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Go International! ANDROSYS (ANTI-DROWSING SYSTEM) – HELM ANTI MENGANTUK BERBASIS DENYUT NADI PADA HELM SEPEDA MOTOR
Go International! ANDROSYS (ANTI-DROWSING SYSTEM) – HELM ANTI MENGANTUK BERBASIS DENYUT NADI PADA HELM SEPEDA MOTOR
Kamis, 05 Maret 2015 19:17
Share | |

Androsys memenangkan Gold Medal (invention category) di ajang International Invention, Innovation & Design (IIID) 2014, UiTM Johor Malaysia, 20 Agustus 2014. Kini helm tak hanya berfungsi sebagai pelindung kepala. Dengan sentuhan teknologi vibrator, dua mahasiswa Teknik Manufaktur Universitas Surabaya (Ubaya), Kristiawan Manik dan Ricky Nathaniel Joevan menciptakan Androsys (Anti-Drowsing System) alias helm anti kantuk. "Awalnya, kami mendapat tugas Kuliah Design Project dari dosen pembimbing, Bapak Sunardi Tjandra ST MT, lalu kami mencari ide. Idenya dari nonton televisi terkait berita kecelakaan lalu lintas yang penyebab utamanya didominasi rasa kantuk," katanya. Dua mahasiswa ini menyoroti tingginya angka kecelakaan akibat pengendara motor yang mengantuk. "Dari data kepolisian, saat arus mudik tahun 2013 terdapat 3.675 orang yang meninggal karena mengantuk di jalan," terang Kristiawan. "Dari sana kami berpikir, masyarakat perlu alat pencegah rasa kantuk yang efektif, efisien, dan ekonomis," tambah Ricky.

Androsys berbasis teknologi sensor piezoelectric. Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi denyut nadi. Normalnya, denyut nadi seseorang berada pada kisaran 80 denyut per menit. "Jika jumlah denyut yang tertangkap sensor tak sampai 80 denyut per menit, sensor akan mengirimkan sinyal ke dua vibrator yang terletak di daerah ubun-ubun." Dua vibrator itu lantas menimbulkan getaran dalam frekuensi rendah secara berkala. "Nggak sampai mengagetkan, kok. Hanya cukup agar pengendara motor tersadar, lalu diharapkan mereka tidak melanjutkan berkendara," sahut Kristiawan. Kalau si pengendara masih mengantuk dan denyut jantungnya kembali melemah, dalam jangka waktu 30 detik vibrator akan memberikan getaran. "Sensor bisa saja dipasang pada leher yang akan kami hubungkan dengan tali helm, sehingga Androsys sekaligus dapat mendukung program safety riding dari kepolisian," katanya.

Androsys mendapat dana hibah Rp 9,5 juta dari Kemdikbud melalui PKM-KC (Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta). Namun produk ini tidak terpilih untuk mengikuti PIMNAS 2014 di Semarang. Tanpa patah arang, mereka mengikutsertakan produk itu dalam "International Invention, Inovation and Design (IIID)" di Universiti Teknologi Mara (UiTM) Segamat, Johor, Malaysia, 20 Agustus 2014. Hasilnya, Androsys dinyatakan sebagai temuan baru dan sukses meraih medali emas untuk kategori Invention, dalam ajang yang diikuti sekitar 140 tim dari Thailand, Malaysia, Swedia, Australia, Amerika Serikat  Asia, Eropa, dan Indonesia.

Menanggapi prestasi anak bimbingnya, Bapak Sunardi Tjandra menilai keunggulan Androsys terletak pada harga yang murah dan tidak mengubah struktur helm. "Produk mereka juga dibutuhkan pasar untuk saat ini," katanya. “Di samping itu, juri juga menilai dari sisi commercial value dan social responsibility," jelasnya.

Ke depannya, produk yang sudah dipatenkan ini akan terus dikembangkan dan disempurnakan.  “Semoga terus ada generasi-generasi muda yang berinvensi dan berinovasi, khususnya dari Fakultas Teknik Universitas Surabaya,” tambah Sunardi.