LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini68
mod_vvisit_counterKemarin138
mod_vvisit_counterMinggu ini981
mod_vvisit_counterBulan ini2001
mod_vvisit_counterSemua650515

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Go International! Kolaborasi TI_DMP Ubaya Juara 1 INDISCO
Go International! Kolaborasi TI_DMP Ubaya Juara 1 INDISCO
Jumat, 16 Oktober 2015 09:57
Share | |

Belum banyak mainan khusus untuk anak-anak penyandang tunanetra. Padahal, sarana tersebut bisa jadi salah satu media belajar bagi mereka. Karena itu, tiga mahasiswa dari Universitas Surabaya (Ubaya) ini membuat Raba Toy.

Nathania Wijono, Angela Tedjakusuma, dan Yosua Tedjokusumo membuat Raba Toy untuk membantu anak tunanetra belajar membaca sebelum mengenal huruf braille. "Media ini ditujukan untuk anak usia 6–12 tahun," kata Nathania Wijono, salah seorang anggota tim Champ Ubaya, itu.


Raba Toy terdiri atas tiga kotak mainan. Bentuknya pun tidak seperti kotak mainan pada umumnya. Setiap kotak memiliki fungsi sendiri. "Dibagi jadi tiga kotak," kata Nia, sapaan akrab Nathania Wijono.

Kotak pertama dirancang untuk mengenalkan bentuk. Antara lain, persegi, kotak, atau segi tiga. Siswa yang ingin mencobanya dapat memasukkan bentuk-bentuk tersebut ke tempat yang telah disediakan. Di dalam kotak itu, disediakan tombol yang dapat mengeluarkan suara. "Suara tersebut untuk menjelaskan bentuk yang harus dimasukkan ke kotak," jelas mahasiswa semester tujuh jurusan teknik industri tersebut.

Nia mencontohkan, untuk memasukkan segi tiga, anak dapat menekan tombol di sampingnya. "Nanti yang keluar formasi angka satu, dua, dan empat," ungkapnya.

Pada kotak kedua, anak dikenalkan pengenalan tekstur. "Ada media pembandingnya. Jadi, ada pilihan bentuk kecil dan besar," jelasnya. Pada tahap tersebut, anak belajar konsentrasi. Sebab, mereka harus mencocokkan bentuk yang sama dengan ukuran yang berbeda. "Belajar motorik juga," papar Nia.

Tahap akhir merupakan pengenalan huruf braille. "Tahap ini anak-anak sudah dikenalkan huruf-huruf," ujar Nia. Pada kotak ketiga, huruf-huruf tersebut juga memiliki titik yang menjelaskan hurufnya. "Akan keluar suara juga," paparnya.

Berkat inovasi tersebut, Nia dan timnya berhasil meraih juara satu pada Industrial Design Seminar and Competition (INDISCO) 2015 di Semarang pada 9–11 Oktober lalu. Mereka mengalahkan 21 tim dari 18 perguruan tinggi se-ASEAN. "Tidak menyangka dapat juara satu. Bangga bisa membawa nama baik kampus," ungkap Angela Tedjasukmana.

Dia berharap nanti dapat memasalkan produk tersebut. "Supaya dapat digunakan semua anak tunanetra di seluruh Indonesia," tambah Angela.

(di-copy dari JawaPos, 14 Oktober 2015, dan http://www.ubaya.ac.id/2014/content/news_detail/1630/Bantu-Anak-Tunanetra-Belajar.html)