LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini198
mod_vvisit_counterKemarin236
mod_vvisit_counterMinggu ini1361
mod_vvisit_counterBulan ini5506
mod_vvisit_counterSemua695749

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita FT UBAYA Kerjasama dengan Perguruan Tinggi China
FT UBAYA Kerjasama dengan Perguruan Tinggi China
Jumat, 10 Agustus 2018 02:56
Share | |

Fakultas Teknik (FT) Universitas Surabaya (UBAYA) kembali menjalin kemitraan dengan partner internasional, yakni Zheijang University, Hangzhou, dan Henan Institute of Science and Technology (HIST). Keduanya merupakan perguruan tinggi asal Negeri Tirai Bambu.

--

“Kerjasama tersebut dalam kerangka Cross Cultural Research, Collaboration, and Exchange Program (CRCEP) yang sejarahnya diawali kerjasama Fakultas Psikologi UBAYA dengan Zheijang University pada 2012 silam,” papar Dekan FT UBAYA Dr. Amelia Santoso, MT.

Dua tahun kemudian, terang doktor Teknik Industri dari ITB Bandung dengan bidang kekhususan rekayasa sistem rantai pasok (supply chain system engineering), kerjasama dikembangkan ke FT UBAYA melalui sejumlah penjajakan dan nota kesepahaman (MoU). “Yaitu antara Zhejiang University dengan FT UBAYA serta Fakultas Psikologi. Waktu itu, lebih spesifik lagi dengan Program Studi Teknik Industri terkait riset human factor dan ergonomi,”  terang reviewer Jurnal Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang tersebut.

Nah, pada 2016, ada tambahan kerjasama dengan Henan Institute of Science and Technology (HIST). “Kerjasama itu di bidang teknik elektro, teknik informatika, mekatronika. Dengan Program Studi Teknik Elektro UBAYA misalnya dikaitkan dengan penelitian-penelitian dosen yang melibatkan mahasiswa serta mendapatkan hibah dana dari Kemenristek Dikti,” terang Dr. Amelia.

Sebagian hasil penelitian tersebut, papar alumnus S-2 Teknik Industri ITB dengan bidang kekhususan Sistem Produksi, diimplementasikan di FT UBAYA, seperti jam digital dan absen digital.

Adapun momen pertemuan terbaru dengan Zheijang University dan HIST dilakukan pada 6-14 Mei 2018 lalu di Zheijang University dan HIST, China. “Mahasiswa dan dosen FT UBAYA mempresentasikan penelitian dan proyek tugas akhir yang mereka kerjakan di hadapan dosen dan mahasiswa Zheijang University dan HIST China dan sebaliknya mereka belajar dari yang mereka lakukan di China,” terang alumnus S-1 Statistika ITS.


Total ada lima mahasiswa yang berasal dari Teknik Elektro UBAYA ikut ke China. Mereka didampingi oleh dua dosen: Susilo Wibowo S.T., M.Eng. dan Henry Hermawan S.T., M.Sc. Sementara dari Zheijang University dan HIST direncanakan melakukan kunjungan balasan pada November 2018.

“Sebaliknya di Oktober tahun lalu lima mahasiswa Teknik Elektro dan Manufaktur dari China mengunjungi UBAYA untuk berbagi pengetahuan kepada mahasiswa Fakultas Teknik UBAYA,” terang Amelia.

Lantas kenapa programnya dinamakan Cross Cultural Research, Collaboration, and Exchange Program? Amelia menerangkan, aktivitas riset dicoba di Indonesia dan China. Namun, karena bidang teknik itu menghasilkan produk, maka menjadi sulit untuk membawa produk itu lintas negara, terkait hambatan birokrasi keimigrasian, bea cukai dan sebagainya.

“Nah, dalam riset itu ada muatan lokalnya. Misalnya sistem listrik di China berbeda dengan di Indonesia. Bagaimana kita bisa menyesuaikan tanpa membongkar bahan-bahan dan struktur yang lama,” terangnya.

Dengan membawa mahasiswa FT UBAYA ke China dan sebaliknya mahasiswa Zheijang University dan HIST melawat ke Indonesia, kedua belah pihak saling mempelajari budaya masing-masing.

“Bukan hanya budaya dalam arti kultur, tetapi juga budaya kerja. Misalnya mahasiswa kita dapat memahami bagaimana cara bekerja atau makan di negara China. Mahasiswa juga belajar memahami kesulitan-kesulitan selama berada di negara orang, sehingga keterampilan softskill mereka kian terasah,” terang Amelia.Budaya kerja di China, papar dia, menunjukkan bahwa warga China memiliki semangat yang besar untuk bekerja.

Sebaliknya, mahasiswa dan akademisi di China yang menerima kunjungan delegasi Indonesia juga bisa belajar bertoleransi. Itu, kata Amelia, karena anggota delegasi yang berangkat dari FT UBAYA berasal dari berbagai agama dan suku.

Selain itu, mahasiswa pun bisa saling membangun relasi. “Setelah mahasiswa kami pulang, hubungan tidak berhenti. Mereka saling berkomunikasi dengan mahasiswa di China, sehingga juga membangun jaringan di sana.”

Dia melanjutkan, ke depan, program pertukaran yang sedang dijajaki adalah untuk satu semester. Bukan dua minggu. “Sehingga riset dan pembuatan produk bisa dilakukan di tempat,” pungkas Amelia.

Mahasiswa Industrial Robotic Design Ikut ke China

Salah seorang dosen Program Studi Teknik Elektro UBAYA yang terlibat dalam aktivitas CRCEP di China, Susilo Wibowo, S.T., M.Eng menambahkan dirinya bersama sejumlah dosen dan mahasiswa Teknik Elektro lain berangkat ke Kota Zhengzhou dan Hangzhou, China, pada 4-15 Mei 2018. Selain dirinya, ujar pria dengan jabatan akademik lektor, ada pula dosen Henry Hermawan, S.T., M.Sc. serta mahasiswa Aditya Pratama Hadirijanto, Aditya Nur Azzani, Denny Arief Kurnia, Ivan Taufan Adiwinoto dan Putu Wiswa Prabawa.

“Mereka adalah mahasiswa Teknik Elektro UBAYA dengan bidang peminatan industrial robotic design yang sharing dan berdiskusi mengenai riset tugas akhirnya mengenai digitalisasi ruang kelas, aplikasi pemantauan shuttle bus UBAYA, implementasi smart garden berbasis wireless sensor actuator network, dan alat portabel pendeteksi aritmia (semacam penyakit kelainan jantung, red) di Henan Institute of Science and Technology, Xinxiang, Provinsi Henan, China,”   terang pemilik gelar sertifikasi jaringan MTCNA, MTCWE, dan MTCRE.

Sebaliknya, menurut jebolan S-2 University of Queensland Australia, pada September-Oktober tahun lalu, mahasiswa dari HIST dan Zhejiang University pun telah berkunjung ke kampus UBAYA Tenggilis, Surabaya, untuk membagikan hasil penelitian mereka.

“Ke depan diharapkan ada riset bersama dengan universitas-universitas internasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Fakultas Teknik UBAYA,” terang pria yang mengambil konsentrasi embedded system saat studi pascasarjananya. (frd)