LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini53
mod_vvisit_counterKemarin192
mod_vvisit_counterMinggu ini53
mod_vvisit_counterBulan ini5793
mod_vvisit_counterSemua623040

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Berbagi Kasih Bersama Joger
Berbagi Kasih Bersama Joger
Jumat, 08 Agustus 2008 12:18
Share | |
Joger adalah salah satu ikon terkenal di Bali, juga sebagai satu-satunya pabrik kata-kata di dunia. Seiring dengan perkembangannya, Joger telah membentuk satu gerakan NSM Garing, kependekan dari Niat Swadaya Masyarakat Tiga Piring. Yakni suatu gerakan untuk memajukan masyarakat kurang mampu dengan bantuan, entah bantuan dana maupun bantuan berupa barang. Maksud slogan Tiga Piring adalah manusia, sudah sewajarnya bersyukur, jika ia bisa makan tiga piring dalam sehari.

Kegiatan Berbagai Kasih


Pada bulan Juli 2008 kemarin, Fakultas Teknik Universitas Surabaya datang mengunjungi Mr. Joger di kediamannya di Kuta, Bali. Dalam kunjungan ini, Mr. Joger mengajak para mahasiswa Ubaya untuk bergabung dalam kegiatan NSM ini, dengan menyisihkan sejumlah uang. Dari kurang lebih 50 orang mahasiswa yang hadir dalam kunjungan tersebut, dana yang terkumpul adalah lima ratus lima ribu rupiah. Perwakilan Ubaya, yakni Ricky, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2006, diberi wejangan untuk memberikan dana tersebut kepada 2 orang tidak mampu yang tinggal di sekitar kampus Ubaya.

Dikarenakan berbagai macam kesibukan, mempersiapkan Masa Orientasi Bersama untuk mahasiswa baru Ubaya, niat untuk berbagi dengan sesama yang tidak mampu baru dapat dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus 2008. Dari hasil berkeliling di sekitaran Ubaya Tenggilis, tim Ubaya, yang terdiri dari Ricky, William, Ico dan Liliana, berhasil menemukan 2 orang yang dianggap tidak mampu.

Yang pertama adalah Rizky. Wanita berusia 25 tahun ini, dalam kesehariannya berjualan koran di lampu merah kendang sari. Dari hasil berjualan koran, ia gunakan untuk mengikuti terapi, guna mencari kesembuhan dari cacat fisik yang dialaminya sejak berusia 2 tahun.

Orang kedua yang ditemui oleh tim adalah Pak Yar. Lelaki renta yang tinggal di daerah Sido Sermo ini, telah 45 tahun menjadi tukang becak. Meskipun sudah berusia 88 tahun, Bapak yang satu ini masih memliki wajah penuh senyum. Dengan bersemangat, beliau menceritakan tentang anak, cucu dan cicitnya yang tinggal di kota Malang.

Diharapkan, kegiatan ini tidak akan terhenti begitu saja. Semoga semua orang bisa selalu berbagi kasih dengan sesamanya, sesuai dengan sloga Garing, bersyukurlah jika sudah bisa makan tiga piring sehari.

(liliana)
[eko]

dikutip dari www.ubaya.ac.id