LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini31
mod_vvisit_counterKemarin158
mod_vvisit_counterMinggu ini640
mod_vvisit_counterBulan ini2702
mod_vvisit_counterSemua642509

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Mahasiswa Jurusan Manufaktur UBAYA Bikin Karya Pemarut Sekaligus Pemeras Kelapa
Mahasiswa Jurusan Manufaktur UBAYA Bikin Karya Pemarut Sekaligus Pemeras Kelapa
Kamis, 04 Desember 2008 13:44
Share | |
TERINSPIRASI home industry di kawasan rumahnya, Dimas Atmaja, mahasiswa Jurusan Manufacturing Engineering Design Fakultas Teknik Ubaya (Universitas Surabaya), membuat sebuah karya aplikatif. Yakni, pemarut sekaligus pemeras kelapa. Sistem kerja karya inovatif itu mengaplikasikan cara kerja mesin cuci.

Karya tersebut menjadi tugas akhir (TA) Dimas. TA itu juga mengantarkan mahasiswa angkatan 2003 tersebut meraih nilai A. Dimas mengaku, banyaknya home industry di sekitar rumahnya menjadi ide awal karya itu. Sebab, banyak di antara mereka yang memarut dan memeras santan dengan cara konvensional. ''Home industry masih menggunakan alat pemarut biasa. Sedangkan untuk memeras santan, mereka harus memeras dengan tangan,'' katanya.

Nah, cukup lama Dimas berpikir. Akhirnya, dia merancang alat itu. Cara kerja alat tersebut, kelapa dimasukkan ke sebuah alat pemarut. Setelah itu, hasil parutan otomatis masuk ke tabung di bawah mesin pemarut. Dengan tinggal memberi air, kelapa parut tadi sudah berwujud santan. ''Air 1,3 liter untuk tiga kelapa,'' ujar Dimas.

Pemeras santan itu terdiri atas dua tabung. Tabung kecil di tengah berlubang-lubang untuk jalan keluar santan hasil perasan. Tabung kedua merupakan wadah hasil perasan. Untuk tabung kedua tersebut, Dimas memanfaatkan dandang besar yang telah dimodifikasi. ''Kapasitas operasional alat tersebut mampu memarut dan memeras santan 20 liter per jam,'' jelas pria kelahiran 9 Januari 1985 itu.

Pengoperasian alat pemarut dan pemeras santan itu masing-masing bergantian. ''Untuk operasionalnya, masing-masing alat ada tuas,'' katanya. Dia hanya memanfaatkan satu motor untuk mengoperasikan dua alat tersebut demi pertimbangan efisiensi komponen dan listrik.

Untuk pembuatan alat tersebut, Dimas mengaku menghabiskan biaya Rp 2,5 juta. ''Namun, biaya itu bisa berkurang karena tidak langsung jadi. Beberapa ada kerusakan, seperti salah perhitungan,'' ujarnya. Kini, alat tersebut sedang dipublikasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Ubaya kepada desa binaan di Mojokerto.

''Kita lihat respons masyarakat. Jika terbukti efektif dan efisien, bukan tidak mungkin alat ini diproduksi masal,'' katanya. (alb/hud)

sumber : Jawa Pos, 4 Desember 2008
[fadjar]

dikutip dari www.ubaya.ac.id