LOGIN

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini2
mod_vvisit_counterKemarin134
mod_vvisit_counterMinggu ini2
mod_vvisit_counterBulan ini2069
mod_vvisit_counterSemua650583

MAP

Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)
Home Berita Permainan Game Shake and Grab the Ball ala Hendra dan Hanny
Permainan Game Shake and Grab the Ball ala Hendra dan Hanny
Selasa, 20 Januari 2009 08:45
Share | |
Sederhana tapi aplikatif. Konsep itulah yang diangkat dalam karya cipta dua mahasiswa Universitas Surabaya, Hendra Sanjaya dan Dimas Hanny Permana. Mereka berhasil menciptakan sebuah game console yang diberi nama Shake and Grab the Ball.

Berkembang: Game Console hasil karya Hendra dan Hanny yang bisa berkembang dengan berbagai fitur [doc. Maulana - Deteksi Jawa Pos]

Tak Perlu Capek Pencet Tombol, Cukup Goyangkan

Alat itu sebenarnya diciptakan dalam rangka mengikuti lomba LCEN (Lomba Cipta Elektro Nasional) 2008 yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Meski bentuknya mini, alat tersebut berhasil menyabet juara tiga untuk bidang telematika.

"Kami sempat minder waktu bawa alat ini. Kami ngelihat saingan bawa alat yang besar-besar. Ada yang pakai teknologi GPS segala. Lha kami, cuma alat kecil yang dibawa dalam kotak sepatu, he..he.." cerita Hendra. "Tapi, untung kami bisa tunjukkan bahwa alat ini aplikatif dan bisa dikembangkan dengan luas," imbuhnya.

Game console tersebut bisa meraih prestasi sedemikian cemerlang bukan tanpa alasan. Penilaian tinggi diberikan untuk perangkat itu karena aplikatif dan sangat inovatif.

Bentuk inovasi tersebut terlihat dari pemakaian IC microcontroller atau otak yang dipasang pada alat itu. Yakni, mikroprosesor R8C/13. Otak tersebut masih sekeluarga dengan Renesas. Dimensi dan ukurannya lebih kecil dibanding IC mikroprosesor yang lain.

"Renesas punya daya tegangan yang sangat rendah. Cuma 9 miliwatt. Padahal, kecepatan aksesnya mencapai 20 Mhz!" kata Hanny. Otomatis, hal itu membuat konsumsi sumber daya -yang hanya menggunakan satu buah baterai tipe PP3- bisa bertahan lama.

Dengan otak mumpuni, game console itu bisa dipakai bermain hingga sekitar 10 jam. Alat tersebut juga menomorsatukan sistem accelerometer yang menggunakan respons dari ADXL 202E. Sistem itulah yang nanti mengatur bagaimana permainan bisa berjalan hanya dengan menggoyangkan alat ke kiri dan kanan.

Jenis permainan dalam game itu memang baru satu buah. Yakni, berupa minigame yang mengomando sang pemain untuk menangkap bola yang jatuh dari atas dengan sebuah keranjang. "Nah, keranjang inilah yang akan bergerak ke kiri dan kanan, mengikuti arah goyangan tangan kita," ujar Hendra.

Cara kerja sensor tersebut cukup sederhana. Sangat mirip fitur shake untuk mengganti musik yang disediakan handphone Sony Ericsson W910. "Kalau pada handphone Sony Ericsson memakai accelerometer 3 axis, dalam alat ini kami cuma pakai yang 2 axis. Sesuai dengan kebutuhan aja," ujar Hanny.

Sensor akselerasi minichip itu sebenarnya bisa mendeteksi perubahan posisi komponen menurut sumbu x dan y. Tapi, respons yang digunakan alat tersebut barulah perubahan menurut sumbu x.

Minichip itu bisa mengeluarkan tegangan berbeda, bergantung pada posisi yang sedang dialami ADXL 202E. Tegangan itulah yang kemudian dijadikan pengganti dari sistem kontrol yang umumnya berupa tombol.

"Sebenarnya game-nya bisa lebih variatif kalau kami mau. LCD-nya pun bisa pakai yang berwarna kalau opsi itu dipilih, " ujarnya. Namun, untuk mewujudkan hal itu, Hendra dan Hanny masih harus menemui banyak kendala. Misalnya, biaya yang mahal serta harus mempelajari program instalasi yang tepat.

"Masalah pengembangan bisa jadi macam-macam. Kalau dipasang slot buat SD card, bisa menyimpan banyak game," jelas Hendra. (aul/kkn)

dikutip dari Jawapos, 20 Januari 2009
[eko]